Rabu, 26 Juli 2017

Belajar Agama Hindu, Cara Berdoa Sembahyang Orang Hindu

Belajar Agama Hindu
 Agama Hindu adalah agama yang pertama kali diturunkan oleh Tuhan. Artefak Weda ditemukan sudah ada sejak 4000 SM.
  Dasar agama Hindu adalah Om (Tuhan) dan Santi (kedamaian). Setiap bait doa pasti diawali dengan Om dan diakhiri dengan Santi.
   Di Indonesia umat Hindu berpusat di Provinsi Bali. Walaupun sebenarnya Hindu memiliki banyak aliran dan sekte sekte.
   Pada keluarga Hindu di Bali, persembahyangan setiap hari biasanya dilakukan di
setiap sanggah (tempat suci kecil di rumah) yang dilakukan biasanya 1 kali setiap hari setelah mebanten ( menghaturkan sesajen, biasanya canang).  Doa dilakukan dengan sikap bersila untuk pria dan bersimpuh untuk wanita. Dimulai dengan menghaturkan doa Tri Sandya. Setelah selesai doa Tri Sandya dilanjutakan dengan Panca Sembah ( panca = lima, sembah = doa, menyembah) menggunakan sarana dupa dan bunga.
Diawali 1 dengan mencakupkan tangan dengan sikap menyembah tanpa menggunakan bunga. Kemudian kedua menggunakan Bunga Putih di tujukan menyembah Dewa Surya, setelah selesai bunga diambil sedikit dan di selipkan ke telinga atau rambut. Ketiga di tujukan ke Bhatara Hyang Guru menggunakan bunga aneka warna, jika disediakan bisa menggunakan Kewangen (aneka bunga+daun pandan potong+uang logam pis bolong  yang dimasukan ke daun pisang yang dibentuk kerucut). Ke Empat  ditujukan kepada leluhur dan semua dewata meminta anugrah menggunakan aneka warna juga. Kelima diakhiri dengan tangan kosong lagi. Setelah selesai sembahyang kita  akan di beri tirta (air suci) yang biasanya di perciki dulu 3 kali oleh Pemangku atau orang yang memercikan, setelah itu di minum 3 kali, setelah itu di basuh ke muka 3 kali. Setelah itu jika di sediakan bija (beras) yang di makan sedikit, di tempel di tengah alis, kemudian ditempel di dada bawah jakun sedikit. Setelah itu biasanya  melakukan sembah tanpa menggunakan bunga atau tangan kosong sekali lagi, dan proses sembahyangpun selesai. 

Persembahyangan hari besar atau Hari Raya Agama Hindu ada yang diperingati satu tahun sekali (Nyepi),  6 bulan sekali (Galungan dan Kuningan). Saraswati dan Pagerwesi (6 bulan sekali) dan 2 minggu sekali pada bulan Purnama penuh dan Bulan Gelap penuh, yang mana hari raya ini telah tertera di kalender bali dan setiap rumah memiliki kalender ini. 

Masih banyak hari raya-hari raya lainnya misalnya kajeng kliwon, yang jatuhnya juga 2 minggu sekali. Kemudian Tumpek Landep (6 bulan sekali) memperingati besi, perkakas dapur besi dan kendaraan. Tumpek Kandang (6 bulan sekali) memperingati/membanteni hewan ternak. Tumpek Ngatag/ Tumpek Wariga (6 bulan sekali) membanteni pertanian perkebunan persawahan (tumbuh-tumbuhan). 

Setiap pura di desa juga memiliki hari lahirnya atau rerainan nya, dan biasanya setiap 6 bulan sekali diperingati dan diadakan persembahyangan di Pura Tersebut. 

Jika di sahabat Muslim sholat 5 waktu dan setiap Jumat ada persembahyangan dan khotbah. Di sahabat Nasrani setiap hari minggu ada persembahyangan dan khotbah. Di Hindu bali tidak ada khotbah di pura pada setiap persembahyangan tersebut. Jikalaupun ada hanya pada upacara yang besar, misal ngenteg linggih  atau pedudusan agung sebuah pura yang diadakan hanya 1 kali saja semenjak pulau itu berdiri. Hindu di Bali penekanannya lebih ke rupa-rupa banten atau sajen nya yang memiliki jenis, tingkatan-tingkatan atau levelnya, dan ragam aneka upakara yang banyak sekali. 

Upacara dan persembahyangan di Hindu biasanya diadakan untuk 5 yadnya ( Panca Yadnya). Kebanyakan Yadnya yang dijelaskan di atas adalah Dewa Yadnya ( persembahan suci tulus ikhlas kepada Tuhan dan para dewa).
1. Dewa Yadnya
2. Pitra Yadnya ( para leluhur, Ngaben adalah salah satu dari yadnya ini)
3. Bhuta Yadnya ( kepada makhluk bhuta/alam hantu/alam jin) rainan Kajeng Kliwon adalah salah satunya.
4. Manusa Yadnya ( upacara yang dilakukan disetiap orang Hindu Bali semenjak bayi lahir, 42 hari, umur 3 bulan, 6 bulan, akil balig, mapendes/potong gigi, pernikahan/pawiwahan dan berulang kembali ketika mempunyai anak/ lahiran)
5. Rsi Yadnya ( upacara kepada Rsi atau para pemuka agama hindu)

Setiap keluarga di Bali memiliki garis keturunan, nah setiap keturunan memiliki Pura Kawitan (awit=mulai). Setiap 6 bulan sekali pada hari kalender yang ditentukan, diadakan upacara besar dan persembahyangan yang di pura tersebut.

Jika di sahabat Islam ada Nabi Muhammad dan Nasrani ada Yesus, di Hindu kurang di kenal (walaupun sebenarnya ada sapta rsi/7 rsi). Hindu di Bali lebih pada Tri Murti ( 3 dewa utama. Brahma yang dimaknai sebagai pencipta. Wisnu pemelihara. Dan Siwa sebagai pelebur. Agama Hindu di Bali lebih menekankan pada rupa-rupa bebantenan atau sesajen pada setiap upacara-upacara keagamaannya.

Kitab suci agama Hindu adalah Weda. Namun weda bukanlah satu buah buku seperti Al Quran ataupun Al Kitab. Weda adalah sebutan untuk semua kitab-kitab suci Hindu yang begitu banyak. Weda-weda dikelompokan menjadi 2 kelompok utama yaitu Weda Smerti dan Weda Sruti. Karena saking banyaknya, biasanya di suatu rumah keluarga Hindu Bali, tidak memiliki kitab sucinya sendiri. 
        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar